Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Thursday, January 27, 2011

Tiga Syarat Menjadi Pejabat


Selasa, 11 Mei 2010, 06:41 WIB
Pandega/Republika
Oleh Abdullah Hakam Shah MA

Ketika baru dibaiat sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta masukan dan nasihat dari sejumlah tabiin terkemuka. Satu per satu menyampaikan masukannya. Umar bin Abdul Aziz pun mendengarkannya dengan saksama. Sampai tiba giliran Thawus bin Kaisan, ia hanya berkata singkat, ''Jika Anda ingin membangun tata kelola pemerintahan yang baik, pilihlah orang-orang baik sebagai pejabat.''

Masukan Thawus tersebut barangkali tidak sementereng teori-teori pemberantasan korupsi yang ramai dikemukakan dewasa ini. Namun, ketika teori yang mentereng itu tak jua berhasil, bahkan iming-iming remunerasi pun berujung pada semakin maraknya praktik penilapan uang rakyat. Kini, apa yang disampaikan Thawus menjadi menarik untuk direnungkan kembali.

Dari teladan Rasulullah SAW dan khulafaurrasyidin RA, paling tidak ada tiga kriteria orang baik yang membuatnya layak diamanahi suatu jabatan. Pertama, ia tidak terlalu berambisi merengkuh jabatan itu, apalagi sampai menghalalkan segala cara.

Dalam sebuah hadis sahih dari Abu Musa al-Asy'ari, Rasulullah SAW bersabda, ''Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan suatu jabatan kepada orang yang memintanya atau berambisi mendapatkannya.'' (HR Muslim).

Sebab, ketika seseorang sampai menghalalkan segala cara untuk memperoleh suatu jabatan, bisa dipastikan ia akan sulit berlaku amanah. Alih-alih diharapkan berkorban untuk kesejahteraan rakyat, ia justru akan sibuk mengembalikan modal yang pernah dikeluarkannya, memperkaya diri, dan mencari prestise lewat jabatan yang diemban.

Kedua, ia taat beribadah dan memiliki relasi sosial yang baik. Ketika Umar bin Khattab RA mengangkat Nafi' bin al-Harits sebagai gubernur Makkah, Nafi' memilih Ibnu Abza untuk mengepalai masyarakat yang tinggal di daerah lembah dekat Makkah.

Padahal, Ibnu Abza hanyalah bekas budak di komunitas tersebut. Saat Umar bin Khattab mengonfirmasi hal itu, Nafi' menjawab, ''Ia memang bekas budak, tetapi ia hafal Alquran, paham masalah faraidl (waris), dan sering memutuskan persoalan masyarakat dengan adil.'' (HR Ahmad). Maka, Umar pun memuji pilihan Nafi' karena melihat kapabilitas dan tingkat akseptabilitas Ibnu Abza.

Ketiga, ia adalah pribadi yang sederhana dalam kesehariannya. Sebab, hanya pejabat dengan gaya hidup yang sederhanalah yang bisa imun (tahan) dari godaan kemewahan dunia. Sebaliknya, gaya hidup mewah sangat potensial menjerumuskan seorang pejabat untuk melakukan korupsi walaupun telah dimanjakan dengan gaji dan remunerasi yang lebih dari cukup. Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa pejabat yang curang dan korup tidak akan pernah mencium wangi surga (HR Bukhari dan Muslim). Allahumma qad ballaghtu. Wa Allahu A'lam.

Sembilan Langkah Menjadi Pemimpin Orang Beriman


Jumat, 23 April 2010, 08:11 WIB
Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Menjadi pemimpin bukan semata-mata kemenangan karena terpilih, tapi lebih dari itu, sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Banyak hal yang harus diejawantah sebagai pemimpin orang beriman.

Pertama, teladan dalam ketakwaan dan paham kitabullah dan sunah (QS 65: 2). Sangat sulit disebut pemimpin jika tidak ada keteladanan dalam pencarian ridha Allah. Abu Bakar ash-Shiddiq menyeru ketika dilantik jadi khalifah, ''Jika kepemimpinanku benar menurut Alquran dan  as-sunnah , maka ikuti aku. Tapi jika salah, tinggalkan aku.''

Kedua, wara' (berhati-hati dengan hukum Allah) dan istikamah. Tidak ada niat melabrak hukum Allah, bahkan konsisten dengan keimanan dan istikamah di jalan-Nya. (QS 41: 30-33).

Ketiga, sehat, kuat, cerdas, dan visioner. Seorang pemimpin harus punya visi dalam membangun dan menyejahterakan rakyat (QS 59: 18). Karena itu, daya tunjang kesehatan, fisik yang kuat dan kemampuan mengeksplorasi kecerdasan menjadi hal mutlak bagi seorang pemimpin. (QS 2: 247).

Keempat, ahli ibadah, zikir, tadabbur Quran, berjamaah di masjid, puasa sunah, dan ahli tahajjud. Memimpin butuh efektivitas dan kearifan. Hal ini akan didapatkan jika pemimpin itu ahli ibadah, gemar berzikir, suka membaca Alquran, kaki dibawa ke masjid, berlapar-lapar dengan puasa sunah, serta mau menyingkap selimut di waktu malam untuk bertahajud menghadap Allah. (QS 17: 79).

Kelima, tsiqah (bisa dipercaya), adil, jujur, amanah, tepat janji, tegas, dan berani. ''Sesungguhnya Allah memerintahkanmu memberikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Jika hendak menetapkan hukum di antara manusia, berilah hukuman dengan adil ....'' (QS 4: 58).

Keenam, rendah hati, merakyat, tulus mencintai rakyatnya, serta dekat dengan anak yatim piatu dan fakir miskin (QS 4: 10). ''Hendaklah rendahkan hatimu kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu ....'' (QS 26: 215).

Ketujuh, jabatan menjadi  washilah dakwah (QS 41: 34). Kedudukannya sebagai pemimpin bukan sebagai kehormatan, tetapi untuk kepentingan dakwah, yaitu mengajak umat dan rakyat makin dekat dengan Allah.

Kedelapan, sangat mendengar nasihat ulama, siap dikritik, terus belajar, dan tidak mudah tersinggung apalagi marah (QS 11: 88).

Terakhir, selalu berdoa untuk rakyatnya disertai tawakkal yang kuat. Indah sekali jika ada pemimpin, di siang hari ia berjibaku melayani rakyat, sedangkan malamnya ia tahajjud lalu mengangkat tangan dan berserah diri kepada-Nya. ''Maka jika kamu telah bertekad mengerjakan sesuatu (setelah berusaha) maka serahkan kepada Allah ....'' (QS 3: 159). Wa Allahu a'lam.

Mengapa Ingin Jadi Pemimpin


Rabu, 31 Maret 2010, 19:03 WIB
Oleh Prof Dr Imam Suprayogo

Banyak orang yang ingin jadi pemimpin. Motif mereka pun bermacam-macam. Ada yang sebatas ingin mendapatkan prestise, fasilitas, kehormatan, dan nama besar. Ada pula yang benar-benar tulus, ingin membuat perubahan agar masyarakatnya menjadi lebih baik.

Konsekuensinya, beragam motivasi tersebut melahirkan model dan gaya kepemimpinan yang bermacam-macam. Model pemimpin yang pertama biasanya sangat hati-hati, tidak banyak mengambil keputusan yang berisiko, agar posisinya tetap aman.

Dia menginginkan suasana stabil dan tenang; perlu anak buah loyal dan menuruti perintahnya, sekalipun tidak pintar. Orang pintar dan orang yang beroposisi diwaspadai dan dilemahkan, bahkan dibuang jauh.

Secara sederhana, hebat (tidak)-nya seorang pemimpin dapat dilihat dari orang-orang yang mengitarinya. Jika mereka miskin prestasi, maka kualitas pemimpin itu pasti rendah dan tidak bermutu, begitu pula sebaliknya.

Dalam berbagai kesempatan, saya bertanya kepada kepala-kepala daerah, mengapa mereka tidak memilih orang yang cakap dan pintar. Mereka pun berdalih, jika tidak loyal, orang cakap dan pintar malah merepotkan dan bikin birokrasi tidak jalan. Alhasil, orang bodoh pun masih beruntung dan tetap laku, asal loyal. Model kepemimpinan tersebut pasti melahirkan sikap munafik, loyalitas semu, stagnasi, bahkan mental korup.

Lain halnya dengan pemimpin revolusioner. Dia adalah pemimpin yang kaya ide, mau berjuang untuk mewujudkan idenya, dan yang terpenting, dia selalu berani mengambil risiko atas pelaksanaan idenya itu.

Pemimpin revolusioner menyukai orang-orang yang memiliki kelebihan, bahkan kalau perlu melebihi kapabilitas dirinya. Dia tidak memikirkan kedudukan. Dia melihat bahwa keberhasilan kepemimpinannya akan terjadi jika ditopang oleh orang-orang yang berkualitas tinggi, dan bukan sebatas orang-orang yang berbekal loyalitas. Kalaupun loyalitas dianggap perlu, maka bukan loyalitas terhadap pemimpinnya, tetapi terhadap visi atau cita-cita besarnya.

Di bawah pemimpin revolusioner, orang pintar dan orang yang memiliki keahlian tinggi sangat beruntung. Mereka terhormat dan diberi ruang untuk mengekspresikan kepintaran dan keahliannya. Bahkan, diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya.

Sayang sekali, model pemimpin revolusioner tidak muncul di banyak tempat. Yang banyak bermunculan justru pemimpin yang ingin mendapatkan fasilitas, prestise, kehormatan, dan berbagai kenikmatan. Namun, kita tetap merindukan dan menunggu kehadiran pemimpin revolusioner itu

Menyelami Keajaiban Power of Listening


Senin, 12 Juli 2010, 09:32 WIB
Oleh Muhammad Syamlan

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab berdiri di mimbar seraya berkata, "Wahai manusia, dengarkan dan taatilah apa yang aku katakan." Tiba-tiba Salman al-Farisi, salah seorang sahabat yang berasal dari Persia, berdiri dan berbicara dengan lantang, "Tidak ada lagi kewajiban bagi kami untuk mendengar dan taat kepada Anda."

Mendengar pernyataan itu, Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang terkenal dengan ketegasannya, menerima protes keras dari Salman al-Farisi yang mantan budak. Umar tidak merasa bahwa kritikan yang disampaikan Salman akan membuatnya terhina. Karena itu, ia menerimanya dengan lapang dada dan mencari akar masalah yang membuat perintahnya tidak ditaati.

"Wahai Salman, apa yang membuatmu tak mau mendengar dan tak mau taat?" Salman pun menjawab, "Kami tak akan mendengar dan tak akan taat, sehingga Engkau menjelaskan bagaimana Engkau mendapatkan bagian dua potong kain, sementara kami semua masing-masing hanya mendapatkan satu potong saja?!"

Umar pun jadi mengerti persoalannya. Dengan tenang dan bijak, Umar memanggil putranya, Abdullah bin Umar, untuk menjelaskan perihal pakaian yang dipakainya.

Abdullah menjelaskan, bahwa pakaian yang dipakai oleh ayahnya, salah satunya adalah milikinya yang ia berikan kepada ayahnya. Hal itu dilakukannya, karena badan Umar yang tinggi besar, sehingga bila hanya satu potong kain, maka hal itu tidak cukup untuk dibuatkan pakaian.

Setelah mendengar penjelasan itu, Salman pun lalu berkata, "Kalau demikian, silakan keluarkan perintah, kami siap mendengar dan siap menaatinya."

Di lain kesempatan, Umar bin Khattab berkhutbah selepas shalat berjamaah. Dalam khutbahnya itu, Umar membuat batasan mahar (maskawin). Tiba-tiba seorang perempuan tua berdiri menentang intruksi Umar itu.

"Atas dasar apa, Anda membatasi mahar yang berhak diterima kaum perempuan, sedangkan Allah tidak membatasinya, bahkan berfirman, 'Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedangkan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai mahar), maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata'?" (An-Nisa' [4]: 20).

Mendengar protes perempuan tua itu, Umar terdiam sejenak, lalu segera berkata, "Umar telah salah dan perempuan itu yang benar." Umar pun mencabut intruksinya.

Itulah sosok Umar bin Khattab. Pemimpin yang dikenal sangat keras, tegas, dan kuat. Namun, dengan lapang dada, dia sangat terbuka dan lembut, sama sekali tidak antikritik dan tidak marah ketika diprotes. Ketika dia melakukan kesalahan, dengan cepat ia memperbaikinya, kendati protes yang disampaikan dikemukakan di hadapan umum. Ia tidak malu untuk mengakui kesalahannya bila terbukti salah. Alangkah menakjubkannya keteladanan Umar

Monday, January 3, 2011

Hikmah Pagi: Moralitas Tunggal dalam Kata dan Perbuatan

Oleh: Harry Septanto

 REPUBLIKA.CO.ID, Suatu siang di bulan Desember, sebuah mobil diberhentikan oleh seorang Polantas. Lantas terjadilah dialog  berikut ni.

“Selamat Siang, Pak. Bisa diperlihatkan SIM dan STNKnya?" ujar seorang Polantas.
Dengan perasaan bingung, kesal bercampur takut, pengendara mobil tersebut bertanya, "Ini, Pak. Salah saya, apa, ya?"

"Bapak telah melanggar marka solid di sana. Tolong SIM dan STNKnya, Pak."
"Marka solid?? Yang mana, Pak? Yang itu?" Tanya pengendara sambil menunjuk "bekas" marka solid yang sekarang sudah tampak samar-samar, bahkan sebagian sudah tidak dapat lagi dibedakan warnanya dengan warna aspal jalan.

Dialog di atas hanya dialog fiktif belaka yang mengilustrasikan interaksi ekstrim antara peraturan atau hukum, penegak hukum dan individu wajib hukum. Karena penegak hukum juga wajib hukum,  dialog tersebut bisa dibilang menggambarkan pula antara (pihak yang memprakarsai) peraturan dan pihak yang wajib tunduk pada peraturan.

Sebuah peraturan akan tegak berdiri apabila "bunyi" peraturan beserta infrastrukturnya jelas dan, tidak terkecuali, pemrakarsa hukumnya pun turut tunduk patuh terhadap peraturan tersebut. Namun, pemikiran yang lain mengatakan bahwa peraturan dan pemrakarsanya bukan yang harus lahir lebih awal. Kesadaran setiap individu masyarakat atas tindakannyalah yang seharusnya terlahir lebih dahulu.

Sungguh, dua hal ini seperti persoalan “apakah ayam atau telur yang lahir lebih dahulu?'. Namun penulis berpendapat bahwa lingkaran tak berujung antara (pemrakarsa) hukum dan kesadaran individu bisa dipotong, kemudian ditetapkan bahwa kesadaran setiap individu masyarakat atas tindakannya adalah yang harus pertama kali terlahir.

Bahkan, uraian tafsir atas Qur’an surat Al Anfal: 53 di dalam Tafsir Al Azhar,  Buya HAMKA menyatakan pentingnya kesadaran setiap individu tersebut dengan mengatakan bahwa setiap pribadi diberi akal dan pikiran untuk memilih jalan yang baik atau jalan yang buruk, yang bermanfaat atau yang mudarat.

Perkara kesadaran individu atas tindakannya merupakan perkara yang tidak terlepas dari perkara moral. Di dalam karyanya yang terkenal, The Republic, Plato mempertanyakan alasan mengapa setiap individu harus bermoral yang diilustrasikan melalui cerita tentang cincin Gyges.

Singkat cerita, Gyges menemukan cincin yang dapat membuatnya tidak terlihat oleh seorang pun. Gyges yang awalnya seorang penggembala domba, dengan bantuan cincin tersebut, kemudian bermain cinta dengan ratu, membunuh sang raja dan merebut kekuasaan negara serta menjadi perintis generasi penguasa Lydia.

Nah, seandainya cincin itu kemudian kita miliki sehingga tidak ada seorang pun yang tahu dan dapat menghukum kita seandainya kita, misalnya, mencuri, apakah kita tetap harus bermoral? Apa alasan kita tetap harus bermoral? Itulah persoalan tentang moral yang diajukan oleh Plato. Sebagai individu yang percaya bahwa Tuhan itu ada, kita beruntung karena selalu ada alasan untuk bermoral.

Moral merupakan prinsip-prinsip yang lahir di dalam diri (dorongan batin). Menurut Emanuel Kant, suatu tindakan bernilai moral apabila adanya kesesuaian antara tindakan dengan peraturan batin (dorongan batin) dari dalam diri. Di dalam artikel ini, penulis secara khusus menyamakan makna moralitas ini dengan istilah "satu dalam kata dan perbuatan".

Tentu saja, makna “kata” pada istilah tersebut tidak sekedar berarti kata lahir namun juga kata batin (hati). Di dalam Islam, makna dari negasi  sifat moral ini  sejalan dengan makna sifat munafik. “Seorang munafik mempunyai tiga tanda: lidahnya bertentangan dengan hatinya; hatinya bertentangan dengan perilakunya; penampilannya bertentangan dengan batinnya,” kata Imam Ja’far Ash Shadiq r.a. Wallahu a'lam.

Penulis adalah staf Pusat Teknologi Elektronik Luar Angkasa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)